<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>ayunda gitu loh</title>
	<atom:link href="http://ayunda07.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ayunda07.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 07 Nov 2008 03:47:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ayunda07.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>ayunda gitu loh</title>
		<link>http://ayunda07.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ayunda07.wordpress.com/osd.xml" title="ayunda gitu loh" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ayunda07.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Esposito, Ensiklopedia, dan Kita</title>
		<link>http://ayunda07.wordpress.com/2008/11/07/data/</link>
		<comments>http://ayunda07.wordpress.com/2008/11/07/data/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 03:44:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayunda07</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ayunda07.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Syahdan, tingkat intelektualitas suatu bangsa bisa diukur dengan seberapa banyak pemikirnya masuk ke dalam ensiklopedia. Namun, pemikir Indonesia jarang dimaktubkan ke dalam ensiklopedia dunia mana pun meski kita adalah bangsa dengan umat Islam terbesar di dunia. Kini Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern John L. Esposito diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Mizan. Iqra kali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayunda07.wordpress.com&amp;blog=5434767&amp;post=8&amp;subd=ayunda07&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1></h1>
<p class="MsoNormal">Syahdan, tingkat intelektualitas suatu bangsa bisa diukur dengan seberapa banyak pemikirnya masuk ke dalam ensiklopedia. Namun, pemikir Indonesia jarang dimaktubkan ke dalam ensiklopedia dunia mana pun meski kita adalah bangsa dengan umat Islam terbesar di dunia. Kini <em>Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern</em> John L. Esposito diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Mizan. Iqra kali ini membahas ensiklopedia yang disunting Esposito dan mencari tahu mengapa khazanah pemikiran kita tidak bisa</p>
<p class="MsoNormal">menembus banyak ensiklopedia.</p>
<h1><span id="more-8"></span></h1>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">TELAH kutemukan agamaku: tak ada yang lebih penting dari buku. Aku memandang perpustakaan sebagai tempat ibadah.&#8221; Kutipan kata-kata Jean Paul Sartre itu tentu terlalu berlebihan. Apalagi untuk sebuah ensiklopedia keagamaan. Semakin kita masuk ke dalam hamparan lautan teks, niscaya bertambahlah ketakziman kita terhadap agama. Imajinasi kita dibawa bertamasya melayang menjelajahi ruang waktu, dari dinasti ke dinasti, dari pemikiran ke pemikiran, dan dari khazanah estetika ke khazanah estetika.</p>
<p>Enam volume tebal ensiklopedia berwarna merah itu mengajak kita mengembara dari tembang-tembang perkawinan masyarakat Islam Swahili di Afrika Selatan sampai ke sosok pelukis A.D. Pirous. Dari partai politik Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) hingga Partai Amanat Nasional (PAN), semuanya bisa ditemukan di <em>Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern</em> John L. Esposito.</p>
<p>Ribuan entri tambahan tentang Indonesia ini memang versi terjemahan yang diterbitkan Mizan. Mizan menambahkan, tentu saja dengan persetujuan Esposito, banyak <em>item</em> mengenai pemikiran, aliran, dan kecenderungan Islam di Indonesia sehingga menjadi enam volume dengan tebal masing-masing 370 halaman. Bukalah lembar halaman abjad P. Di situ Anda bisa menemukan kata &#8220;Poros Tengah&#8221;. Dengan informasi seperti ini, Poros Tengah dianggap sebagai fenomena besar dalam sejarah politik mutakhir di Indonesia.</p>
<p>Esposito menerbitkan ensiklopedia—asli dalam bahasa Inggris—pada 1995. Setelah revolusi Iran 1978-1979, ia mengamati seperti ada kesalahpahaman umum masyarakat Barat terhadap Islam. </span>Sebagai pendiri The Center for Muslim-Christian Understanding, Universitas Georgetown, Washington, DC, Esposito kemudian dikenal sebagai peneliti yang tak habis-habisnya menyelenggarakan kajian simpatik terhadap politik Islam modern di berbagai wilayah magribi dan Timur Tengah. Ensiklopedianya mencakup suatu spektrum Islam yang luas, termasuk kawasan Asia Tenggara, yang sering &#8220;didiamkan&#8221; sarjana Barat lainnya. Fokus ensiklopedia Esposito adalah Islam modern, mulai pengujung abad ke-18. Ini adalah ranah yang kosong—dalam penulisan ensiklopedia Islam—karena rata-rata ensiklopedia Islam sebelumnya lebih memfokuskan diri pada hal-ihwal Islam klasik (abad pertengahan).</p>
<p>Sebut saja <em>The Concise Encyclopedia of Islam</em> yang dihimpun oleh Cyril Glasse, penulis buku <em>Islamic Jerusalem, a Guide to Saudi Arabia</em>. Ensiklopedia yang terdiri atas 1.300 entri ini hanya terdiri atas satu volume. Huston Smith, pakar perbandingan agama yang memberikan pengantar pada ensiklopedia ini, menilai kitab ini mampu memberikan keseimbangan dikotomi esoterik-eksoterik dalam Islam. Tapi, dalam soal kedalaman kajian terhadap hal-hal esoteris dari agama, ensiklopedia ini tampaknya belum mampu mengalahkan kelengkapan <em>Encyclopedia of Religion</em>, yang terdiri atas 16 jilid (masing-masing setebal 550 halaman), yang dihimpun ahli sejarah agama Mirca Elliade.</p>
<p>Yang luar biasa dari ensiklopedia ini, dalam setiap tema esoteris selalu digunakan pendekatan interdisipliner dari berbagai perbandingan pengalaman agama. Contohnya masalah Gnosis, sebuah masalah persatuan manusia dengan Tuhan yang terdapat dalam setiap tradisi mistik agama. Tema ini diulas dari akar-akar zaman Yunani, kemudian dilacak ke tradisi Yahudi, Katolik, dan Islam, lalu dikomparasikan dengan Buddha. Sementara pendekatan ensiklopedia lain lebih bersifat sosiologis, dewan editor Elliade sesuai dengan kepakarannya banyak meninjau dari sudut psikologi agama atau antropologi agama. Editor untuk hal-hal Islam misalnya Annemarie Schimmel, profesor dari Universitas Harvard, yang kajian-kajiannya tentang mistik Islam sangat luar biasa. Bahkan, ensiklopedia ini mengulas tradisi ritual di berbagai wilayah (suku) Indonesia, antara lain Aceh, Bali, Batak, dan Dayak (Borneo).</p>
<p>Kebesaran ensiklopedia ini mungkin hanya bisa diimbangi dengan kebesaran <em>Encyclopaedia of Islam</em> E.J. Brill Leiden yang terbit pada 1913. Inilah ensiklopedia yang, menurut Amin Abdullah, staf pengajar IAIN Sunan Kalijaga, Yog-yakarta, merupakan induk dari ensiklopedia Islam klasik. <span lang="FI">Kitab ini merupakan akumulasi keilmuan berabad-abad baik dari ahli Islam Barat maupun Timur. Ensiklopedia lain, menurut Amin Abdullah, terkadang hanya menerjemahkan ensiklopedia E.J. Brill. </span>&#8220;Dibandingkan dengan E.J. Brill, ensiklopedia Esposito lebih ringan dan lebih sederhana karena hanya bersifat <em>biographical text</em>. Sedangkan ensiklopedia E.J. Brill mencakup <em>biographical text</em> dan paradigma keilmuan epistemologi,&#8221; kata pakar yang disertasinya bertema perbandingan antara etika Immanuel Kant dan Al Ghazali ini.</p>
<p>Di perpustakaan IAIN Sunan Kalijaga, kita dapat melihat ensiklopedia E.J. Brill, bersampul hijau tua, terdiri atas 10 jilid, berderet rapi sunyi, seolah tak pernah dijamah. Tebalnya &#8220;mengerikan&#8221;: 1.146 halaman—bila diukur dengan penggaris, lebih dari 6 sentimeter. Di samping edisi Inggris, terdapat edisi Arabnya. Nama editor yang tercantum adalah M.Th. Houtsma, A.J. Winsinck, T.W. Arnold, W. Heffening, dan E. Levi Provencial. Edisi Arab tersebut terdiri atas sembilan jilid, setebal 564 halaman, dan bersampul biru muda dengan latar belakang huruf Arab. Pada 1961, penerbitnya menampilkan versi ringkas dari ensiklopedia ini: <em>Shorter Encyclopaedia of Islam</em>, yang memuat 600 entri. Meski Amin Abdullah memuji ensiklopedia ini setinggi langit, banyak pakar lain yang mengkritiknya.</p>
<p>Menurut E.F. Henderson, Ketua The American Educational Trust dan mantan Duta Besar Inggris di Qatar, ensiklopedia ini memuat banyak kesalahan, misalnya referensi yang tidak cukup, penerjemahan yang buruk, dan editing yang belepotan. Materi yang tercakup justru hal-hal yang kurang relevan dalam dunia Islam. Ia tak habis pikir mengapa macam-macam wilayah berpasir yang terdapat di Arab Saudi juga ditulis. Yang paling fatal, masih menurut Henderson, justru hal-hal yang &#8220;remeh-remeh&#8221; seperti itu pembagiannya banyak ditulis oleh pakar Islam yang muslim. Sedangkan hal-hal yang esensial justru ditulis oleh kontributor nonmuslim. ___________</p>
<p>SEJARAWAN dan pakar ensiklopedia Mesir, Jamil Abdullah el-Mar-sy, mengutarakan hal yang sama. Ditemui reporter TEMPO di kantornya di Kairo, Mesir, ia menilai beberapa ensiklopedia Islam versi ilmuwan Barat kurang netral dalam membuat seleksi dan mengulas tokoh Islam. &#8220;Banyak di antaranya yang hanya memasukkan tokoh yang terbilang kontroversial dan liberal dibandingkan dengan tokoh Islam lain, misalnya ensiklopedia pemikiran Islam yang disusun F.A. Hayek,&#8221; katanya.</p>
<p>Ia mengakui bahwa dunia Arab sekarang mengalami kemunduran dalam penyusunan ensiklopedia meski tradisi penyusunan ensiklopedia di Arab amat tua. <span lang="FI">Ensiklopedia pertama, <em>Mafatih Al-Ulum</em>, karya Al-Khwarizimi, dikompilasi pada tahun 975-977. Menurut Jamil Abdullah, di era modern ini ensiklopedia yang disusun pakar Arab mengandung banyak kekurangan. &#8220;Dalam menguraikan biografi tokoh, ensiklopedia Arab lebih bertele-tele, tidak ringkas. Ensiklopedia Islam buatan Arab juga tidak sepenuhnya lengkap karena hanya mendaftar dan memasukkan pemikiran Islam yang dikenal dan yang kebanyakan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab,&#8221; katanya. Toh, menurut dia, masih ada yang bagus, misalnya ensiklopedia terbaru tentang Yahudi, dengan penyusun Abdul Wahab el-Masiry.</p>
<p>Ia tak menampik bahwa semua ensiklopedia buatan pemikir Barat penuh dengan prasangka, misalnya ensiklopedia hadis susunan orientalis A. Wen Sick dari Leiden, Belanda, yang tergolong paling luks dan paling mahal di Mesir. &#8220;Ada yang tulus ingin mempersembahkan karya yang benar-benar murni dan adil, ada yang tidak,&#8221; katanya. Jamil Abdullah mengakui, sebuah ensiklopedia harus melalui proses yang panjang. &#8220;Untuk membuat ensiklopedia yang benar-benar syamil dan kamil (lengkap dan menyeluruh), diperlukan kerja sama dengan berbagai pihak. Misalnya, bila saya bermaksud menulis pemikiran Islam Indonesia, saya harus melakukan riset ke negara Anda (Indonesia),&#8221; katanya.</p>
<p>Di dalam ensiklopedia suntingan Esposito, yang menambah ribuan entri tentang Islam di Indonesia, pembaca bisa saja mempertanyakan mengapa begitu banyak tokoh Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) yang tercantum. Apa mereka sudah layak? Apakah memang B.J. Habibie tergolong tokoh Islam (dalam arti sebagai seorang pemikir yang pernah menghasilkan penelitian atau buku tentang Islam)? Tapi itu soal lain. Bagaimanapun, Esposito dalam pandangan Jamil Abdullah tergolong sebagai pakar yang berlaku obyektif terhadap Islam. </span>Saat membahas masalah yang kontroversial seperti soal Salman Rushdie, Esposito tergolong netral. ___________</p>
<p>LEPAS dari penulisan ensiklopedia buatan pemikir Barat atau Timur Tengah, toh ensiklopedia Islam mana pun hanya menyajikan sedikit nama pemikir Indonesia. Sebagai bangsa umat muslim terbesar di dunia, sejak berabad-abad lalu, nama dari kawasan yang dikenal sebagai Indonesia yang termaktub dalam ensiklopedia Timur Tengah dan Barat hanya bisa dihitung dengan jari. Dari masa klasik, riwayat Al Bantani, misalnya, terdapat dalam ensiklopedia E.J. Brill; juga dalam dalam <em>Ensiklopedi Pemikiran Islam dan Tasawuf</em> (9 jilid) susunan Prof. Dr. Muhammad Zaki Asmawy atau dalam <em>Ensiklopedi Islamiyah</em> dengan penyunting De Jong (1977). Nama lain dari era klasik yang masuk dalam ensiklopedia Timur Tengah adalah Syaikh Nawawi Banten, Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjary, Abdullah al-Fathany, dan Syeikh Ismail al-Minangkabawi.</p>
<p>Sementara itu, <em>Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern</em> dalam versi asli berbahasa Inggris sesungguhnya hanya mencantumkan nama pemikir seperti Nurcholish Madjid dan M. Natsir. Ini mengundang pertanyaan: apakah memang pemikiran Islam Indonesia tidak layak mewarnai kancah pemikiran Islam dunia? Bila ukuran tingkat intelektualitas adalah dengan menembus ensiklopedia, adakah itu menunjukkan kualitas bangsa kita memang belum apa-apa dibandingkan dengan bangsa lain?</p>
<p>Sesungguhnya, ada beberapa hal penyebabnya. Pertama , seperti yang diakui Esposito, sebagian besar pemikir Indonesia tidak menulis dalam bahasa Inggris atau bahasa Arab, sehingga pemikirannya tidak dikenal secara luas oleh masyarakat internasional. Para ulama klasik kita di masa lalu menulis dalam bahasa Arab Jawi, yaitu tulisan Melayu yang ditulis dalam huruf Arab, sehingga nama dan pemikiran mereka masih banyak digunakan di madrasah-madrasah di Mekah. Tapi, pada abad ke-20, perguruan tinggi dan pusat studi Islam di Barat jarang bersedia mengumpulkan tulisan (pemikir Islam di Indonesia) dalam bahasa Indonesia karena muatan ilmiah (<em>intellectual content</em>) dalam bahasa Indonesia dianggap rendah.</p>
<p>Menurut pemikir Islam terkemuka Nurcholish Madjid, dalam soal transliterasi bahasa Arab ke Indonesia (atau sebaliknya) saja, bahasa Indonesia sudah mengalami kesukaran. Nurcholish Madjid mencontohkan bagaimana bahasa Indonesia kedodoran dalam menghadapi transliterasi Arab-Indonesia. Tulisan <em>su&#8217;al</em> (dengan hamzah), misalnya, karena tidak ada pedomannya. sering ditulis menjadi <em>sual</em>. Padahal, arti <em>su&#8217;al</em> adalah &#8220;pertanyaan&#8221;, sedangkan <em>sual</em> berarti &#8220;batuk&#8221;. Yang lebih gawat, <em>qur&#8217;an</em> dengan dua titik di atas sering ditulis <em>qur&#8217;an</em> tanpa dua titik di atas. Padahal, <em>qur&#8217;an</em> tanpa dua titik berarti &#8220;lotre&#8221; atau &#8220;undian&#8221;. &#8220;Bayangkan, soal-soal begini saja belum bisa kita atasi. Padahal, yang namanya karya ilmiah itu harus persis, tepat, sesuai dengan makna yang dimaksud,&#8221; tutur Nurcholish. Walhasil, memang, betapapun banyak dan hebat-hebat, karya ilmiah yang dibuat dalam bahasa Indonesia itu tak dilirik. &#8220;Dalam bahasa Inggris, soal-soal (mendasar) itu sudah selesai lama. Bagaimana kita bisa maksimal menulis jika soal dasar semacam itu saja belum selesai?&#8221; tutur Nurcholish lagi.</p>
<p>Faktor kedua yang menyebabkan tak munculnya pemikir Islam Indonesia di arena internasional adalah menyangkut orisinalitas pemikirannya. Kautzar Azhari Noer, staf pengajar IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, menilai minimnya pemikiran Islam Indonesia yang dilirik ensiklopedia dunia disebabkan oleh masalah otentisitas. <span lang="FI">Bahkan, pemikiran-pemikiran klasik kita bukanlah penemuan sendiri yang murni. Konsep mistisisme martabat tujuh dari Hamzah Fanzuri yang terkenal itu, misalnya, jelas terpengaruh oleh Ibn Arabi. Akan halnya seluruh nada dasar pemikiran teologi Islam kita juga adalah Asyariah. &#8220;Pemikir kita masih selalu mengambil, bukan memberi. Dasar dari pemikiran mereka adalah tinggal memakai dan melanjutkan yang sudah dikembangkan dari tradisi yang mapan,&#8221; kata Kautzar.</p>
<p></span>Pemikir Islam modern Indonesia seperti Nurcholish Madjid pun, menurut Kautzar, tidak orisinal. <span lang="FI">Semangat pemikirannya memang paralel dengan Hasan Hanafi, tapi tingkat partisipasi kesarjanaannya berbeda. &#8220;Hasan Hanafi menulis buku secara tematik. Cak Nur, setahu saya, tidak pernah menulis buku,&#8221; kata Syaiful Muzani, kolumnis masalah Islam.</p>
<p>Namun, sejarawan Mesir Jamil Abdullah menampik soal otentisitas pemikiran ini sebagai penyebab. &#8220;Untuk menjadi orisinal murni sungguh suatu hal yang sulit. Faktor utama (untuk bisa diperhitungkan ke dalam ensiklopedia—Red.) tetap bahasa,&#8221; tutur Jamil Abdullah. Ia menyebut tokoh-tokoh Islam klasik Indonesia bisa masuk dalam ensiklopedia Timur Tengah, padahal pemikirannya tergolong tidak orisinal juga. &#8220;Itu karena mereka menulis dalam bahasa Arab,&#8221; katanya.</p>
<p>Amin Abdullah juga menolak dikotomi orisinal atau tak orisinal dalam pemikiran Islam itu. </span>Menurut dia, justru penemuan pemikir Islam kita adalah dengan &#8220;karakter Indonesia&#8221;. <span lang="FI">Pendapat ini mengingatkan kita pada uraian sejarawan Deny De Lombard. Setelah mengkaji sejarah Nusantara, ia beranggapan bahwa proses osmosis (saling menyerap) antara tradisi pemikiran lokal dan pemikiran asing yang masuk Hindu, Buddha, atau Islam selalu terjadi. Itulah yang disebut variasi pemikiran Indonesia. Bila memakai takaran itu, banyak yang disebut pemikiran Islam keindonesiaan dengan segala perniknya. </span>Tengoklah ensiklopedia tiga jilid susunan Departemen Agama (dengan 540 judul entri). Bukalah abjad T yang menampilkan <em>item</em> &#8220;Thaher Jalaludin&#8221;. Dia adalah ulama kelahiran Ampat Angkat, Bukittinggi, 1869, dan dia adalah adik Akhmad Khattib, ulama Indonesia di Mekah. Sejak berumur 11 tahun, ia belajar di Mekah. Lebih-kurang 14 tahun di Mekah, ia kemudian belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, pada 1895. Selama empat tahun ia berguru ilmu falak di Kairo hingga namanya berjuluk Al Azhari al-Falaki. <span lang="FI">Saat kembali ke Minangkabau, ia menentang sistem kewarisan pola adat Minangkabau. Ia mengkritik materi pelajaran yang diberikan di Thawalib Padangpanjang lantaran ia banyak membaca pemikiran Jamal al-Din al-afgani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Karena alasan-alasan inilah dia pindah ke Malaysia. Di sana dia diangkat sebagai mufti di Kerajaan Perak dan pernah mengikuti rombongan Sultan Perak me-lawat ke Inggris pada saat pelantikan George V menjadi Raja Inggris.</p>
<p>Kita hampir tak pernah mendengar ulasan mengenai tokoh ini. Apa yang diperbuatnya di Malaysia sama sekali juga masih belum dikaji. Masih untung ensiklopedia ini menyebutnya. Ensiklopedia ini memang mencoba mengemukakan berbagai aspek keislaman khas Indonesia yang mungkin tidak ditemukan dalam ensiklopedia lain. Hal demikian juga dapat kita temukan pada <em>Ensiklopedia Islam</em> terbitan 1993 (lima jilid dan memuat 885 entri) yang pada tahap akhir dibaca cermat oleh Taufik Abdullah.</p>
<p></span>Menurut Amin Abdullah, pengalaman politik Islam modern Indonesia juga ditandai banyak hal yang khas. &#8220;Bayangkan, Mega banyak dipilih oleh tokoh Islam,&#8221; katanya. Juga banyak tokoh yang tak memiliki tulisan tapi menonjol secara nyata di organisasi, misalnya Ahmad Dahlan. <span lang="FI">&#8220;Beliau tidak meninggalkan tulisan, tapi organisasinya yang menjembatani antara abangan dan santri bisa berkembang pesat sampai sekarang. Ini khas Indonesia,&#8221; kata Amin Abdullah. Ia percaya, bila semakin banyak peneliti Indonesia kita yang menulis dalam bahasa Inggris, keunikan dan kekhasan pemikiran Islam di Indonesia ini akan lebih dikenal dunia hingga sepadan dengan pemikiran Islam Pakistan atau Timur Tengah. Untuk itu, ia menganjurkan agar ensiklopedia pemikiran Islam keindonesian segera dibuat secara rinci. &#8220;Saya berharap nanti ada ensiklopedia Muhammadiyah, ensiklopedia Nahdlatul Ulama, misalnya,&#8221; kata Amin.</p>
<p>Tapi, dengan jumlah doktor yang masih sedikit (rasio doktor untuk Indonesia adalah 65 untuk setiap sejuta orang; bandingkan dengan India, yang memiliki 1.300 doktor untuk setiap sejuta orang), menurut Nurcholish Madjid, Indonesia masih membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk obsesi itu. Untuk membuat ensiklopedia yang bermutu, katakanlah seperti ensiklopedia Esposito, kita membutuhkan banyak dewan editor dari disiplin ilmu tertentu yang telah banyak melakukan penelitian interdisipliner.</p>
<p>Nurcholish Madjid bersama Budy Munawar Rachman dan Ihsan Ali Fauzi serta beberapa staf Yayasan Paramadina baru saja meluncurkan <em>Ensiklopedi Islam untuk Pelajar</em>. Memang ensiklopedia ini ringan karena untuk konsumsi remaja. Ensiklopedia ini kaya akan ilustrasi dengan tata warna mencolok. </span>Naskahnya bahkan disesuaikan dengan gambar, dilengkapi dengan indeks, rujuk silang, dan indeks terusan (<em>running index</em>). Menurut penerbitnya, ensiklopedia yang pekan lalu secara simbolis dihibahkan untuk pelajar di seluruh Indonesia ini menggunakan pendekatan baru, yakni sarat dengan pendekatan visual. &#8220;Kita menghadapi generasi baru yang dibesarkan oleh televisi. Karena itu, ilustrasi menjadi penting,&#8221; tutur L. Pasman, Pre-siden Direktur PT Ichtiar, yang menerbitkan ensiklopedia ini.</p>
<p>Apa pun bentuknya, ini adalah perkembangan yang menggembirakan. Kita memiliki <em>I Galigo</em>, sastra lama Bugis, yang konon lebih panjang dari Mahabarata dan Homerus. Kita memiliki <em>Serat Centhini</em>, ensiklopedia kebudayaan Jawa yang mendata semua kebudayaan di Jawa. <span lang="FI">Tapi semua itu adalah campuran sastra lisan, bauran antara mitos dan fakta.</p>
<p>Maklum, sejarah lama kita tidak mewariskan tradisi mengumpulkan fakta konkret. Ini tentu saja kalah jauh dengan tradisi Romawi, yang sudah mengupayakan penulisan ensiklopedia sejak 183 SM (<em>Natural History</em>, karya &#8220;Pliny the Elder&#8221;, yang mengandung 20 ribu fakta). Sedangkan di Cina pada tahun 1410—atas perintah Kaisar Chu Ti—sudah dibuat kitab <em>Yung-lota-tien</em> (&#8220;Buku Rujukan Besar&#8221;). Untuk itu, sang Kaisar menitahkan 2.000 ahli mengerjakan tugas ini. Ensiklopedia tersebut terdiri atas 22.937 bab dengan total 917.480 halaman yang terbagi atas 11.095 jilid. Apa boleh buat, dibandingkan dengan bangsa-bangsa ini, tampaknya sejarah kita bukanlah sejarah yang gemar mengumpulkan fakta.</p>
<p>Penerjemahan <em>Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern</em> dan terbitnya <em>Ensiklopedi Islam untuk Pelajar</em>, karena itu, adalah suatu mutiara di jagat perbukuan kita. Asalkan itu tidak menjadi pajangan. Maklumlah, yang sering terjadi, setelah keluarga atau instansi membeli serangkaian ensiklopedia itu, mereka lebih sering menenggerkan buku-buku tebal itu sebagai hiasan almari.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ayunda07.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ayunda07.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ayunda07.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ayunda07.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ayunda07.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ayunda07.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ayunda07.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ayunda07.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ayunda07.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ayunda07.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ayunda07.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ayunda07.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ayunda07.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ayunda07.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayunda07.wordpress.com&amp;blog=5434767&amp;post=8&amp;subd=ayunda07&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayunda07.wordpress.com/2008/11/07/data/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3d3211d2a17c2281e81fe7cafdb48ed2?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ayunda07</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>biodata</title>
		<link>http://ayunda07.wordpress.com/2008/11/07/biodata/</link>
		<comments>http://ayunda07.wordpress.com/2008/11/07/biodata/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 03:40:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayunda07</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ayunda07.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[nama : ayunda irsyad alamat : ulak karang asal : tanjung ampalu status : duda makanan kesukaan : goreng jering minuman kesukaan : jus tampoyak<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayunda07.wordpress.com&amp;blog=5434767&amp;post=4&amp;subd=ayunda07&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>nama : ayunda irsyad</p>
<p>alamat : ulak karang</p>
<p>asal : tanjung ampalu</p>
<p>status : duda</p>
<p>makanan kesukaan : goreng jering</p>
<p>minuman kesukaan : jus tampoyak</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ayunda07.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ayunda07.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ayunda07.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ayunda07.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ayunda07.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ayunda07.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ayunda07.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ayunda07.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ayunda07.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ayunda07.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ayunda07.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ayunda07.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ayunda07.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ayunda07.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayunda07.wordpress.com&amp;blog=5434767&amp;post=4&amp;subd=ayunda07&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayunda07.wordpress.com/2008/11/07/biodata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3d3211d2a17c2281e81fe7cafdb48ed2?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ayunda07</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://ayunda07.wordpress.com/2008/11/07/hello-world/</link>
		<comments>http://ayunda07.wordpress.com/2008/11/07/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 03:21:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayunda07</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayunda07.wordpress.com&amp;blog=5434767&amp;post=1&amp;subd=ayunda07&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ayunda07.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ayunda07.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ayunda07.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ayunda07.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ayunda07.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ayunda07.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ayunda07.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ayunda07.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ayunda07.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ayunda07.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ayunda07.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ayunda07.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ayunda07.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ayunda07.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ayunda07.wordpress.com&amp;blog=5434767&amp;post=1&amp;subd=ayunda07&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ayunda07.wordpress.com/2008/11/07/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3d3211d2a17c2281e81fe7cafdb48ed2?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ayunda07</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
